Menjebak burung dari masa ke masa

10/16/2013
Aktivitas menjebak burung sebenarnya bukan hanya dilakukan di Indonesia saja, melainkan sudah dilakukan di hampir semua negara yang ada di dunia dengan metode yang berbeda sesuai kebiasaan / kultur dan juga budaya di negara tersebut. Berikut adalah ulasan mengenai menjebak burung dari masa ke masa.

Menjebak burung dari masa ke masa


Menjebak burung sudah dilakukan sejak beberapa abad silam dan banyak digunakan untuk berbagai kepentingan, seperti bertahan hidup dengan menjadikan burung/unggas sebagai makanan, penelitian dan konservasi untuk pemuliaan burung yang dianggap langka sehingga dikhawatirkan terjadi kepunahan jika tidak segera dibiakkan, sedangkan yang umum ditemukan di tempat kita adalah menjebak burung untuk tujuan dipelihara atau dijual di pasar-pasar burung. 

Walaupun peraturan mengejai menangkan burung menggunakan perangkap dan sangkar jebakan masih belum diatur oleh Undang-Undang atau Peraturan Daerah namun di beberapa negara ada hukum dan peraturan tertentu yang membatasi dan melarang penggunaan perangkap maupun kandang jebakan untuk menangkap burung-burung liar. Tujuannya tentu saja untuk melindungi populasi burung dari KEPUNAHAN.

Perangkap burung dari sederhana hingga otomatis

Hampir semua perangkap yang dbuat menggunakan makanan, air atau serangga sebagai umpan untuk menarik perhatian burung yang berada dalam jangkauan dan dilengkapi juga dengan mekanisme yang bisa membatasi gerakan mereka, bahkan bisa melukai atau membunuh burung yang berada dalam jangkauan.

Penggunaan makanan dan umpan ini juga kadang disertai dengan pemutaran suara panggilan baik dari kaset ataupun dari burung itu sendiri yang digunakan sebagai umpan yang berada di dekat atau dalam perangkap burung tersebut. 

Mekanisme yang digunakan dalam perangkap itu sendiri beragam, ada yang bekerja dengan menahan gerakan seperti mengikat kaki dengan jerat atau membatasi gerakan seperti dalam sebuah kandang jebakan. 

Untuk mengantisipasi penyalahgunaan kandang jebakan ataupun perangkap tersebut, beberapa negara telah membatasi penggunaannya dengan dibuatkan peraturan khusus yang tujuannya melindungi burung asli maupun burung dilindungi.

Untuk mengetahui jenis - jenis perangkap burung yang sudah digunakan sejak berabad-abad lampau, berikut agrobur sajikan edisi lengkap jenis-jenis perangkap burung yang banyak digunakan di mancanegara, untuk menambah pengetahuan bersama.


1. Perangkap Clap/Pegas ( Clap traps / Bow nets)

Perangkap clap adalah perangkap dengan rangka pegas yang menggunakan kelambu yang dibentuk dalam dua bagian yang akan saling menutup dengan cepat begitu burung menginjak pemicunya atau ada juga perangkap model ini yang bisa dikendalikan dari jarak jauh secara manual. Penggunaan perangkap model ini cukup populer di beberapa negara di Asia seperti Jepang, Malaysia, Singapura, dan Thailand , karena banyak digunakan untuk menangkap burung sejenis tekukur, derkuku, puter, punai ataupun perkutut.

Perangkap jaring dengan menggunakan pegas
Perangkap jaring dengan menggunakan pegas


Dalam perkembangannya model perangkap ini kemudian di kombinasikan dengan ruangan untuk menyimpan umpan atau burung pemancing, sehingga kegunaannya pun bukan hanya untuk menangkap burung yang berada di atas tanah saja melainkan sudah meluas hingga bisa menangkap burung seperti kacer, murai batu, ataupun burung kicauan lainnya.


Perangkap pegas yang dikombinasikan dengan sangkar
Perangkap pegas yang dikombinasikan dengan sangkar


2. Perangkap Corong ( Funnel Traps)


Perangkap corong memiliki pintu masuk yang sempti dimana burung akan terdorong untuk memasuki pintu jika didalamnya ada ruangan yang berisi makanan dan setelah mereka masuk, mereka akan terjebak didalamnya karena kesulitan untuk keluar melalui pintu corong tersebut.


Salah satu bentuk perangkap corong yang menggunakan kawat
Salah satu bentuk perangkap corong yang menggunakan kawat

Ukuran perangkap corong ini bervariasi tergantung kebutuhan dan bisa memiliki ukuran yang sangat besar untuk menjebak beberapa puluh burung sekaligus, ukuran paling besar yang terkenal adalah yang dibuat di observatorium burung di Heligoland Jerman dan dikenal dengan perangkap Heligoland , perangkap tersebut digunakan untuk memantau dan mempelajari migrasi burung dengan menangkap mereka lalu memasangkan ring atau pelacak dan kemudian melepaskannya kembali.


Perangkap heligoland


Perangkap heligoland yang merupakan perangkap burung terbesar di dunia


3. Meriam jaring ( Cannon Nets ) 


Burung yang sedang berkelompok bisa dijerat menggunakan jaring besar yang ditembakan menggunakan meriam atau kanon yang dipicu oleh roket yang akan ditembakan lalu mengangkat dan menyebarkan jaring di atas seluruh kawanan burung tersebut.

Jaring ini disebut juga sebagai jaring roket atau bom jaring, yang digunakan untuk menangkap seluruh koloni burung dalam satu wilayah terutama burung-burung yang berukuran kecil. Biasanya digunakan untuk memeriksa burung seperti monitoring virs ataupun untuk mempelajari burung.


Meriam jaring digunakan untuk menangkap banyak burung dalam satu kelompok atau koloni
Meriam jaring digunakan untuk menangkap banyak burung dalam satu kelompok atau koloni


Teknik ini sangat cocok digunakan di habitat terbuka dan biasanya digunakan untuk burung yang sering berada di area terbuka dalam jumlah banyak. Setelah ditangkap burung akan di lepaskan kembali kecuali jika ditemukan satu atau beberapa burung yang dicurigai membawa penyakit atau virus.

Dalam perkembangannya teknik ini banyak digunakan selain untuk menangkap burung juga digunakan untuk menangkap hewan atau binatang lain dengan cepat.


Meriam jaring digunakan juga untuk menangkap binatang lain


4. Jaring kabut (Mist nets ) 

Jaring kabut adalah perangkat jaring halus yang biasa digunakan menangkap burung dihutan. jaring yang berukuran cukup lembut ini dipasang membentang diantara pepohonan di lokasi yang merupakan jalur penerbangan dari burung. 

Saking halusnya membuat keberadaan jaring ini sama sekali tidak terlihat oleh burung, sehingga jika dilihat dari kejauhan mirip dengan kabut yang sangat tipis, burung yang menabrak jaring ini kemudian akan terjatuh ke lipatan yang berada di bagian bawah dimana disitu biasanya mereka akan terjerat.


Menangkap burung dengan menggunakan jaring halus
Menangkap burung dengan menggunakan jaring halus


Penggunaan jaring ini harus dengan melalui pengawasan atau pemantauan, karena tidak jarang burung yang sudah tertangkap tidak berapa lama kemudian akan berhasil melepaskan jeratnya atau kemungkinan lain bisa terkena cedera yang lebih parah jika terbelit lebih dalam dengan jaring-jaringnya dan juga untuk mencegahnya terjatuh ke bawah dan menjadi mangsa predator.

Penggunaan jaring cukup populer di beberapa daerah di Indonesia terutama untuk mengatasi hama burung sejenis emprit atau tekukur yang merusak ladang pertanian ataupun persawahan. 

Namun sayang dalam perkembangannya, penangkapan burung dengan jaringpun kini mulai bergeser dari yang tadinya hanya digunakan untuk menangkap burung yang dianggap sebagai burung hama , kini banyak digunakan untuk menangkap burung jenis kicauan dalam jumlah yang cukup banyak. 

Untuk itu tentu diperlukan pengontrolan lebih lanjut terhadap keberadaan penangkap-penangkap burung tersebut, sebagaimana yang telah dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah di Indonesia yang mulai memberlakukan pelarangan menangkap dan membawa keluar burung - burung jenis tertentu dari daerah asalnya 

5. Jerat simpul ( Noose traps ) 

Perangkap ini menggunakan metode tali simpul mono-filamen yang di ikatkan pada batang kayu atau ranting pohon yang cukup lentur untuk bisa menarik tali simpul menjadi mengikat. 

Biasanya dalam penerapannya menggunakan umpan hidup (ulat atau serangga) yang di ikat pada pemicunya, yang mana jika ulat tersebut ditarik maka secara otomatis akan membuat tali melepaskan pemicu yang akan langsung menarik tali simpul hingga membuat burung atau unggas yang berada dalam lingkaran tali tersebut akan terjerat.


Beragam varian perangkap simpul


perangkap penjerat ini biasanya dipasangkan di atas tanah meski sekarang banyak juga dikombinasikan dengan pepohonan sehingga bisa dipasang di batang pohon. Diletakan di lokasi yang strategis dimana menjadi tempat mencari makan burung ataupun unggas.

Perangkap ini kemudian dikenal juga sebagai bal-chatri yang telah dimodifikasi menjadi perangkap bersimpul banyak untuk menangkap burung jenis pemangsa seperti cendet atau raptor , dan dalam perkembangannya muncul lagi varian baru dari perangkap ini yang disebut dengan "Noose carpet" 

6. Menggunakan Pulut atau getah ( Bird Lime ) 

Menangkap burung menggunakan getah adalah hal yang cukup umum di negara kita, tapi ternyata beberapa negara di luar sana pun menggunakan teknik yang sama untuk menangkapi burung-burung liar. Namun yang membedakan tentu saja resep cara membuat lem pulut atau getahnya. 

Di Indonesia getah pulut umumnya dibuat dengan merebus getah pohon nangka/benda yang diolah sedemikian rupa dengan bahan-bahan lain agar mengental dan mudah rekat. Penggunaan getah untuk menangkap burung mungkin hal yang biasa di sini, tapi di beberapa negara hal ini dianggap sebagai tindakan yang ilegal dan bisa terancam sangsi/hukuman. Hal tesebut lantaran banyaknya burung yang mati sia-sia akibat penggunaan getah yang semakin tidak terkontrol.


Burung tengkek udang yang terjerat oleh pulut


Getah pulut ini juga banyak digunakan di negara-negara yang menjadi tujuan burung migrasi, sehingga membuat populasi burung tersebut terus mengalami penyusutan.

6. Ngobor atau menyenter burung tengah malam (Spot-light trapping)

Menangkap burung pada tengah malam juga menjadi satu kegiatan para pencari burung di berbagai daerah di Indonesia. Dengan bersenjatakan lampu senter para pencari burung akan berusaha mencari keberadaan burung yang sedang tertidur di antara ranting-ranting pohon atau disemak-semak.

Begitu terlihat, lampu senter tersebut langsung diarahkan pada mata si burung yang akan terbangun dan langsung mengalami kebutaan sementara, dan dengan bantuan jaring ikan mereka akan segera mengambil burung tersebut yang sedang dalam kondisi linglung.


Para pemburu di Italia abad 18 mencari burung branjangan dengan menggunakan lentera


Penggunan lampu atau cahaya untuk menangkap burung ini sudah dimulai sejak sebelum abad ke-19, biasanya orang jaman dulu menggunakan lentera untuk berburu burung-burung pada malam hari, kegiatan tersebut sering dilakukan di Spanyol, Italia dan Inggris. Teknik menangkap burung di Italia dikenal dengan lanciatoia sementara di Inggris dikenal dengan bat-fowling ( ngalong!) atau low belling sedangkan di Indonesia di beberapa daerah dikenal dengan istilah ngobor.



7. Kandang jebakan (Cage traps)

Seperti halnya jebak menggunakan pulut, jaring ataupun ngobor, menggunakan kandang jebakan merupakan salah satu hal yang juga populer dilakukan di Indonesia. Kita dengan mudah bisa menjumpai kandang jebakan ini dijual di pasar-pasar burung dengan harga bervariasi tergantung tingkat kesulitan dan kerapatan jeruji dari kandang jebakan tersebut.


Di beberapa negara, penggunaan kandang jebakan ini pun sudah sedemikian berkembang, sehingga mereka tidak lagi menggunakan kandang jebakan berbahan dasar kayu melainkan dari bahan dasar kawat alumunium. Kegunaannya pun hanya dikhususkan pada menangkap burung burung liar yang dianggap mengganggu seperti halnya burung jalak/common myna yang populasinya cukup merepotkan penduduk setempat di beberapa negara. 

Bentuk dan ukuran kandang jebakan itu sendiri bervariasi mulai dari yang terkecil hingga berukuran besar yang bisa menampung beberapa puluh burung sekaligus dalam satu kali tangkapan.


Selain menangkapi burung dengan cara-cara di atas, ada cara-cara lain yang bisa dibilang lebih ekstrim karena menggunakan mekanis yang bisa melemahkan bahkan membunuh burung yang masuk perangkap, misalnya menggunakan batang kayu yang langsung memukul burung hingga lemas dan anak panah yang langsung menancap tubuh burung ketika menarik umpannya. Biasanya cara seperti itu dilakukan untuk tujuan bertahan hidup, karena burung atau hewan yang mati itu kemudian dijadikan sebagai makanan oleh si pemburu dan keluarganya. 


Perangkap untuk tengkek udang / cekakak

Di banyak negara aktivitas menjebak burung liar adalah PERBUATAN ILEGAL dan bisa dianggap melanggar undang-undang perburuan liar yang hukumannya cukup berat. Namun meski selama beberapa dekade dianggap ilegal, penangkapan liar burung-burung di alam terus berlanjut terutama untuk dijadikan menu santapan di restoran-restoran mewah yang menyajikan menu khas burung atau unggas yang sangat langka.

Seperti yang sering terjadi di Cyprus yang menjadi tempat beristirahatnya burung-burung yang sedang bermigrasi melalui jalur penerbangan Eropa - Afrika. Pada musim semi 2010, ada lebih dari satu juga burung terbunuh di Cyprus yang semuanya dilakukan hanya untuk memenuhi permintaan pelanggan dalam sebuah rumah makan yang ada di kota tersebut. 

Hal yang unik bisa ditemukan di India dimana untuk menangkap burung air akan dilakukan oleh para pemburu yang berjalan dan bersembunyi di bawah air dengan menggunakan sebuah pot yang berisi tanah di atas kepala mereka. Begitu ada burung air yang menghampiri pot tersebut, si pemburu langsung menangkap kakinya.

Sedangkan di Malta, orang yang sering melakukan aktifitas menjebak burung disana harus memiliki lisensi atau izin untuk menangkap burung. pemberian lisensi ini sudah berlangsung sejak tahun 2007 dan sampai saat ini sudah terdapat sekitar 4.700 orang penangkap burung liar yang berlisensi dan di Amerika Utara peraturan pelarangan menjebak burung liar sudah diberlakukan sejak tahun 1918.

Berburu ataupun menjebak burung bisa menghilangkan spesies burung asli dari daerah tersebut, apalagi jika hal tersebut dilakukan tanpa terkontrol dan tidak ada upaya untuk berusaha menjaga keseimbangan alam. Anggapan sebagian orang bahwa hanya mengambil burung dewasa atau anakan dari alam bisa menjaga keseimbangan adalah SALAH BESAR. 

Bisa anda bayangkan ketika mengambil anakan burung dari sarangnya yang ternyata tidak berhasil dirawat alias mati dalam perawatannya, padahal anakan tersebut merupakan satu-satunya keturunan yang tersisa setelah induknya mati ditembak pemburu. Begitu pula ketika mengambil atau membutu burung dewasa yang ternyata tengah merawat dan memberi makan anak-anaknya? Jika induknya ditangkapi atau dibunuh lantas siapa yang merawat anak-anaknya tersebut?

Karena itu perlu peraturan yang lebih tegas dari Pemerintah terutama Pemerintah Daerah untuk segera membuat peraturan khusus mengenai perlindungan satwa dan burung liar yang ada di wilayahnya. Dengan begitu, akan ada kesempatan untuk memperbaiki kualitas lingkungan dan melindungi populari satwa dan burung liar dengan membangun beberapa ruang hijau dan taman kota yang bisa menjadi habitat burung tanpa khawatir ditangkapi. 

Untuk itu, mari kita bersama-sama menjadi Kicaumania sejati yang mencintai alam tanpa pernah merusaknya. 


Semoga bermanfaat.
Iklan Premium Omkicau

Artikel Terkait

loading...