Perilaku dan Penangkaran Kakatua Maluku

1/17/2014
Kakatua maluku atau Cacatua moluccensis ( Salmon-crested cockatoo) merupakan burung kakatua endemik dari kepulauan Seram dan Maluku di wilayah Indonesia bagian timur, di habitatnya mereka bermukim di hutan-hutan dataran rendah dengen ketinggian 1000 meter diatas permukaan laut, mencari makan biji-bijian, kacang, buah dan kelapa. Kekuatan paruh dari burung kakatua maluku ini mencapai berat 2000 Kg sehingga mampu memecahkan kulit kelapa yang keras.



Burung kakatua maluku ini merupakan salah satu burung dari jenis paruh bengkok yang sangat dilindungi karena keberadaannya di habitat yang sudah terancam dan semakin langka, seperti tercantum dalam lampiran 1 CITES sejak tahun 1989 dan peraturan UU pemerintah mengenai perlindungan beberapa jenis burung yang termasuk langka.

Ciri khusus dari kakatua maluku adalah jambulnya yang khas yang berwarna merah jambu yang bisa ditegakan, yang menarik adalah karakter yang ditunjukan saat burung ini menegakan jambulnya adalah menunjukan bahwa :

  • Burung ini sedang mencari perhatian pasangannya.
  • Burung kakatua yang sedang mencoba mempertahankan wilayah atau kelompoknya.
  • Burung yang sedang memanggil anggota kelompoknya.
  • Burung yang sedang mengeskpresikan keingin-tahuan / rasa penasarannya.
  • Burung yang sedang mengeskpresikan rasa senang atau gembira, kaget, frustasi atau takut.
Burung kakatua yang sedang menegakan jambulnya ini lebih baik dihindari untuk didekati karena resiko digigit, bayangkan saja kekuatan tenaga dari paruh burung kakatua ini yang sanggup memecah buah kelapa dengan mudah.

Lain halnya jika jambul mereka sedang diturunkan maka karakter dari burung tersebut menunjukan keramahan, ketenangan dan bisa di ajak main oleh kita.

Perbedaan jantan dan betina
Membedakan antara burung kakatua jantan dengan betina dari kakatua maluku ini sangat mudah, yaitu dengan melihat warna matanya dimana burung jantan akan memiliki warna mata coklat atau hitam gelap sedangkan burung betina dewasa memiliki warna coklat kemerahan, hal ini bisa terlihat dengan jelas jika kita menyenter matanya dengan lampu senter yang kecil.

Menangkarkan Kakatua Maluku

Menangkarkan burung ini merupakan salah satu upaya konservasi untuk mencegah kepunahan, sudah banyak penangkar burung di Indonesia yang mengkhususkan penangkaran burung jenis kakatua inim misalnya penangkaran Megananda Bird and Orchid Farm yang berlokasi di kota Bogor, atau penangkar paruh bengkok lainnya yang ada diberbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Menangkar burung paruh bengkok sejenis kakatua maluku ini tidaklah sesederhana seperti kedengarannya, karena untuk mengembang biakannya kita terlebih dahulu harus melalukan banyak penelitian dan pencarian informasi dengan peternak yang sudah berpengalaman, karena burung yang akan ditangkarkan ini merupakan burung endemik yang jelas-jelas dilindungi oleh undang-undang. Jadi sangat penting sekali untuk menjaga kesehatan burung selama dalam kandang perawatannya.

Jika anda sudah siap dengan beberapa hal seperti pengurusan ijin penangkaran, biaya, waktu, akses mudah ke dokter hewan, penjaga ataupun pembantu untuk mengurus penangkaran dan segala hal yang berkaitan dengan perawatan seperti ketersediaan obat-obatan dan juga kandang karantina khusus. Maka itu artinya anda sudah benar-benar siap untuk memulai penangkarannya.

Perilaku perjodohan

Salah satu perilaku yang ditunjukan oleh burung jantan sewaktu perjodohan adalah sering mengerutkan bulu-bulunya, melebarkan ekor, membuka sayap dan menegakan jambulnya. serta sering bergerak seperti mengangguk-angguk atau memantul. pada perjumpaan pertama biasanya burung betina akan berusaha menghindari atau bersikap cu-ek padanya, tetapi selama beberapa hari dipertemukan burung betinapun akan membiarkan burung jantan mendekatinya.

Setelah mereka berpasangan, mereka akan sering terlihat saling bersolek dengan menyisir kepala pasangannya dan juga ekornya. hal ini menunjukan bahawa sudah ada ikatan hubungan emosional dalam mereka. dan setelah beberapa waktu burung jantan akan mulai melakukan ritual kawinnya dan akan berlanjut ke proses selanjutnya yaitu proses berkembang biakan.

Kakatua adalah burung yang sejodoh sehidup dan semati, oleh karena itulah memisahkan burung kakatua yang sudah memiliki pasangannya akan menimbulkan depresi atau stress tingkat tinggi pada mereka. Namun ada kalanya dalam penangkaran ini seekor burung kakatua jantan akan bertingkah sangat agresif terhadap betinanya misalnya dengan menggigit wajahnya, sayap ataupun kaki dari burung betinanya. 


Dengan memberikan wing clipping pada burung kakatua jantan bisa mengurangi resiko betina terkena serangan lebih parah lagi dan membuat burung betina dengan cepat menghindari si jantan. Perilaku agresif ini bisa terjadi jika pasangan sudah tidak cocok dan ada kalanya juga perilaku agresif dari burung jantan ini muncul akibat kegaduhan atau suara bising / berisik dari lingkungan sekitar kandang, yang membuat burung jantan mengalami stress dan depresi hingga akhirnya menyerang burung betinanya.

Kandang penangkaran yang digunakan.

Kandang penangkaran yang digunakan harus sebisa mungkin jauh dari lingkungan yang bising atau ramai, tenang dan terlindung dari panas ataupun hujan. ukuran luasnya sendiri tidak ada batasan minimal ataupun maksimal , selama dalam kandang tersebut burung masih bisa terbang merentangkan sayapnya dan berloncatan kesana-kemari dengan leluasa maka kandang itulah yang digunakan.

tempat sarang yang digunakan bisa menggunakan pohon yang dilubangi atau dari glodok berbahan kayu, plastik ataupun besi yang berukuran besar yang diberi lubang sebagai pintu masuknya.




Pintu masuk yang berjumlah double atau ganda ini dimungkinan untuk mencegah kemungkinan burung kakatua jantan akan menjebak burung betina dalam kotak sarangnya. ukuran kotak sarang ini adalah sekitar 18 hingga 24 inch, bisa menggunakan bahan dari logam, plastik ataupun kayu dan bahan lainnya. bagian dalam untuk tempat bertelur bisa berukuran 12 inch atau terhantung besar kecilnya burung tersebut.

Burung betina akan bertelur dengan jumlah telur antara dua hingga tiga telur, dengan masa pengeraman atau inkubasi sekitar 24 hingga 26 hari, dan setelah berusia 12 hingga 14 minggu anak-anaknya akan sudah bisa keluar dari sarangnya  dan menjadi dewasa.  




Metode yang paling banyak dilakukan dalam penangkaran burung kakatua adalah merawat anakan dari lolohan, misalnya dengan handfeeding, sangat dianjurkan jika ingin memiliki burung kakatua yang bisa jinak, pintar dan terlatih dan dalam hal ini tentu saja dibutuhkan waktu dan pembantu yang siap merawat dan memberi makan dengan cara handfeeding pada piyikan kakatua tersebut. dan selama merawat piyikan itulah piyikan disimpan dalam wadah yang dilengkapi lampu penghangar serta selimut sebagai alasnya atu jika anda memiliki inkubator bisa menyimpan piyikan tersebut dalam inkubator tersebut.

Namun jika anda ingin membiarkan indukannya meloloh anak-anaknya maka perawatan yang bisa anda lakukan adalah terus memantau kondisi sarang setiap hari untuk memastikan anak-anaknya diberi makan dengan benar, berikan buah-buahan dan makanan yang segar serta air bersih setiap harinya untuk menjamin kebutuhan pakan bagi orang tua dan anak-anaknya tersebut. berikan vitamin sebagai penunjang untuk menjaga kondisi tubuh mereka.

Dengan mengembang biakan burung kakatua seram atau maluku ini, diharapkan akan terjadi keseimbangan alam antara habitat di alam dan keberadaan di dalam penangkaran.
Produk khusus penangkaran omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
close