101 spesies burung ditemukan di Natuna sejak tahun 2013

4/24/2014
Sebanyak 101 jenis burung yang hidup di Pulau Bunguran, Kabupaten Natuna telah ditemukan oleh Badan Lingkungan Hidup Natuna. Mereka juga menemukan 16 spesies burung migran yang berhabitat di bumi belahan utara seperti Eropa Utara dan Asia. Penemuan satwa dan burung tersebut telah dilakukan sejak tahun 2013 lalu bersama Pusat Penelitian Biologi LIPI.




 Kasubdid konservasi dan tata lingkungan BLH Pemkab Natuna Hazriana mengatakan bahwa ke-101 jenis burung tersebut masih berkeliaran dengan bebas di hutan-hutan, sedangkan untuk jenis burung migran hanya bisa ditemukan pada waktu-waktu tertentu di kawasan pantai di Natuna. 

Beberapa jenis burung imigran hasil penelitian diantaranya, Adrea Alah atau cangak besar, Charadirius Mongolius atau cerek pasir mongoli, argelta gerzetta kontul kecil, ergelta intermedia atau kuntul perak, limosa, numenius arguata, nemenius phalupus.
 
Hasil penelitian menemukan bahwa beberapa jenis burung yang populasinya kini mendekati terancam kepunahan dan beberapa jenis burung yang dilindungi Undang Undang nomor 7 tahun 1999 an PP nomor 8 tahun 1999, seperti burung cangak besar, kuntul kecil, kuntul perak, kuntul karang, kuntul kerbau, elang bondol, elang laut perut putih, elang ular bido, elang hitam.

“Penelitian bersama LIPI, kami menemukan 101 jenis burung yang hidup dipulau Bunguran ini. Jenis tersebut, ada16 jenis burung imigran, 29 jenis burung dilindungi dan 9 jenis burung mendekati populasinya terancam,” ungkap Hazriani di kantornya, Selasa (22/4).

Hazriani mengaku, penelitian yang dilakukan bersama pusat peneliti biologi LIPI juga menemukan keanekaragaman hayati flora dan fauna. 

Ia juga mengakui penelitian yang telah dilakukan bersama Pusat Peneliti Biologi LIPI ini telah menemukan keanekaragaman hayati flora dan fauna, dan diperkirakan terdapat 285 jenis tumbuhan berhasiat obat ditahun 2012. Serta menemukan 34 jenis mamalia. 29 jenis katak, 58 jenis reptil, 7 jenis serangga (tawon), 56 jenis kupu kupu, 29 jenis capung, 34 jenis ikan air tawar, hasil penelitian tahun 2013.

Data yang dimilik pada saat ini nantinya akan menjadi langkah awal dalam perencanaan konservasi keanekaragaman hayati alam penetapan kebijakan dan pelaksanaan konservasi. Hingga pemanfaatan kelanjutan, pengendalian kerusakan ragam hayati dan pengembangan sistem informasi dan pengelolaan  database. 




Menurutnya juga, rencana pemerintah daerah mewujudkan wilayah konservasi keanekaragaman hayati harus disejalankan dengan upaya menyadarkan masyarakat, sehingga langkah tersebut bisa berjalan secara harmonis antara pemerintah dan masyarakat dengan memahami peraturan yang berlaku.
Produk khusus penangkaran omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
close