Marabou, burung bereputasi jelek yang mengagumkan

6/16/2014
Jika menyebut kata Bangau, pasti yang ada dalam fikiran kita adalah seekor burung yang tinggi langing dengan paruhnya yang tipis memanjang dan gemar memakan ikan. Namun, berbeda dengan jenis bangau yang satu ini, bangau ini malah memiliki reputasi yang sangat buruk di habitat asalnya. Bahkan saking jeleknya, burung ini pun sering kali dianggap sebagai pertanda buruk.

burung marabu, marabou, marabou stork, burung bangau, marabu
Burung marabu si bangau pemakan bangkai



 
Burung marabu atau Marabou stork (Leptoptilos crumeniferus) adalah satu-satunya jenis burung di Afrika yang memiliki reputasi cukup buruk sebagai burung yang termasuk dalam keluarga burung bangau (Ciconiidae). 

Penampilan marabu memang tidak begitu menarik, kepala dan lehernya berwarna merah muda yang tidak ditumbuhi bulu. Secara keseluruhan bulu-bulunya terlihat kusam,  kuyu, dan tidak terawat terlebih dengan adanya semacam kantung udara yang berwarna kemerahan pada tenggorokan mereka yang berbentuk seperti dasi tebal dan bundar. Hingga kini, belum ada satu pun penelitian yang menjelaskan apa sebenarnya fungsi biologis dari kantung tersebut. 


Selain itu kebiasaan makan dari burung marabu ini pun tidak seperti burung bangau lainnya. Burung marabu adalah burung bangau pemakan bangkai. Karena kebiasaannya itu, banyak yang beranggapakan bahwa burung marabu akan membunuh burung lainnya demi memuaskan nafsu makannya yang besar, akibatnya banyak orang-orang yang membenci burung ini. 


Namun, selain memiliki penampilan dan tabiat yang buruk, ada beberapa sifat-sifat yang mengagumkan dari burung bangau pemakan bangkai ini. Yu, kita simak apa saja sifat-sifat mengagumkan dari burung marabu ini. 

Bangau Raksasa 

Marabu merupakan jenis burung yang terbesa dari keluarga bangau (Ciconiidae). Ukuran panjangnya bisa mencapai 1,5 meter dengan bobot berat yang bisa melebihi 9 kilogram. Burung betina memiliki ukuran tubuh yang sedikit lebih kecil. Paruh burung marabu berbentuk seperi baji, dan bisa tumbuh memanjang hingga lebih dari setengah meter. Paruh ini nantinya akan digunakan untuk mengoyak-ngoyak bangkai hewan dan mengambil potongan-potongan dagingnya.


Bentangan sayap marabu bisa mencapai lebih dari 2,5 meter, dengan sayap yang kokoh dan panjang tersebut burung marabu termasuk burung yang memiliki kemampuan melayang di udara dan termasuk penerbang yang unggul.  Ya, burung marabu menguasai cara menggunakan arus udara hangat, atau termal, dan bisa terbang dengan ketinggian yang cukup fantastis sehingga tidak akan bisa terlihat dari daratan!. Bayangkan saja, burung marabu mampu terbang hingga ketinggian 4.000 meter. 



Indukan yang bertanggung jawab 

Selain kemampuan di atas, burung marabu juga memiliki peranan yang mengagumkan sebagai orang tua atau indukan. Burung marabu dikenal sebagai burung yang sangat menjaga sarang dan anak-anaknya. Bahkan ia rela mati demi mempertahankan sang anak dari kemunculan hewan predator. Sarang biasanya dibangung pada ketinggian 30 meter, dengan bentuk yang tidak begitu rumit dan terbuat dari lapisan ranting-ranting kering, dahan pohon, dan daun-daunan. 

Umumnya, burung marabu akan menggunakan sarang yang telah ditinggalkan oleh burung lainnya lalu melakukan sedikit renovasi.  Sarang akan dibangun oleh burung marabu jantan, dan pada musim kawin, berbeda dengan spesies burung lainnya, burung jantan marabu akan menunggu kedatangan burung betina yang akan merayunya ( pada spesies burung lain, tugas merayu biasanya dilakukan oleh burung jantan ). Setelah itu beberapa ekor burung betina akan muncul untuk merayu sang romeo dengan harapan bisa dijadikan pasangannya. 

Cinta yang ditolah adalah hal yang biasa bagi marabu betina, namun dengan kegigihan dan usaha keras dari burung betina, maka burung betina tersebut akan bisa menarik perhatian si jantan dan diterima sebagai pasangannya. 

Selama masa berpacaran, kantong udara yang terdapat di leher pasangan burung ini akan menggembung penuh dan akan mengeluarkan suara yang ditujukan untuk menakuti dan mengusir pihak-pihak yang tidak diinginkannya. Suara tersebut berupa lenguhan, pekikan, dan silulan. 

Pada masa itu, pasangan burung marabu akan menyelesaikan pembangunan sarangnya dengan bekerja sama, begitu juga mereka akan bekerja sama mengerami telur-telur mereka hingga menetas yang membutuhkan waktu hingga satu bulan. Anak-anak marabu akan mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang penuh dari kedua induknya. Makanan yang disajikan untuk mereka biasanya berupa makanan yang bergizi tinggi, seperti ikan, dan katak yang merupakan menu utama dan spesial bagi anak-anak mereka. Pertumbuhan anakan marabu ini memang cukup lambat, karena mereka akan tetap berada di sarang hingga berusia 4 bulan, dan setelah itu baru bisa mandiri.

Meskipun marabu sering dilecehkan sebagai pemakan bangkai, sebenarnya burung ini sangat berjasa. Hewan-hewan pemangsa mengotori dataran Afrika dengan bangkai-bangkai yang membusuk. Jika dibiarkan, bangkai-bangkai ini dapat dengan mudah menyebarkan penyakit dan dapat berbahaya bagi manusia maupun binatang.  Akan tetapi, marabu-lah yang melaksanakan pekerjaan pembuangan sampah ini. Bersama burung-burung nasar—yang juga pemangsa bernafsu makan besar—mereka menyurvei dataran-dataran untuk mencari bangkai yang telah ditinggalkan oleh pemangsanya. 

Setelah sebuah bangkai ditemukan, marabu akan membiarkan burung nasar yang lebih agresif terlebih dahulu mengoyak bangkai itu dengan paruh lengkungnya yang kuat.  Pada saat yang tepat, seekor marabu, dengan paruh panjangnya yang siap digunakan bagaikan sebuah pisau bedah, akan bergerak dengan cepat ke bangkai itu, merenggut sepotong daging, dan kembali ke pinggir, menunggu kesempatan berikut. Setelah burung-burung nasar itu puas, tibalah giliran burung-burung marabu untuk berebut potongan daging apa pun yang tersisa. Marabu akan menyikat apa saja yang dapat masuk ke tenggorokan mereka, kecuali tulang. Potongan daging seberat 600 gram dapat ditelan dengan mudah.

Pada tahun-tahun belakangan ini, marabu telah meluaskan pekerjaan pembersihan mereka hingga di luar habitat alami mereka. Burung ini sudah tidak takut lagi pada manusia dan sekarang sering berada di tempat-tempat sampah di desa dan kota. Hasilnya? Lingkungan yang lebih bersih. Bahkan, marabu mengais-ngais air buangan dari rumah jagal, mencari sisa-sisa daging. 

Untuk mengetahui betapa tangguhnya burung ini, perhatikan contoh berikut. Sewaktu sedang mengorek-ngorek di sekitar rumah jagal di Kenya bagian barat, seekor marabu menelan sebilah pisau pemotong daging. Beberapa hari kemudian, pisau itu—bersih dan berkilap—ditemukan di dekat lokasi yang sama, sementara marabu yang telah mengeluarkan benda itu dari tenggorokannya sedang menjalankan urusannya seperti biasa, kelihatannya tidak terluka sedikitpun!

Burung marabu afrika memang memiliki nasib yang lebih baik dari kerabatnya marabu besar asia ( Leptotilos dubiu) yang memiliki penurunan yang cukup signifikan dalam jumlah populasinya. Tidak diketahui apakah burung marabu ini memilikik musuh di habitatnya, namun musuh utama sebenarnya burung marabu adalah manusia. Ya, manusia kerap membunuh burung bangau raksasa ini untuk diambil bulu-bulu belakangnya yang lembut seperti kain sutra untuk dijadikan hiasan dari tudung kepala, gaun mewah, dan asesoris wanita-wanita Afrika. 

Itulah keunikan dari burung bangau pemakan bangkai, marabu, yang sejak dulu sering dicemooh dan dibenci karena penampilannya, namun ternyata banyak dicari untuk menjadi asesoris mewah, yang untungnya tindakan tersebut sudah mulai berkurang, dan populasi marabu hingga kini tetap dalam jumlah yang sangat berlimpah. 

Salam kicau!
Iklan Premium Omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Komentar spam akan langsung kami hapus