Kisah burung impor dan hilangnya burung lokal

9/26/2014
Beberapa tahun yang lalu tepatnya sekitar tahun 1990-an hingga akhir tahun 2002, Indonesia diramaikan oleh kehadiran burung-burung impor yang jumlahnya cukup banyak, bahkan mendominasi pasar-pasar burung di hampir seluruh Indonesia.



Burung-burung seperti Hwamei atau wambi, poksay hongkong, poksay jambul, poksay kacamata, jalak hongkong, robin, pancawarna, samho, pekling, sanma, dan sebagainya menjadi burung yang bisa ditemukan dengan mudah di pasar-pasar burung dengan harga yang terjangkau untuk saat itu.

Burung lokal seperti pleci, ciblek, burung madu, gelatik wingko, dan lain sebagainya bahkan nyaris tidak ada harganya sama sekali waktu, bahkan kehadiran burung-burung tersebut di kebun-kebun dan pekarangan rumah sama sekali tidak terusik.

Keadaan ini berbanding terbalik dengan kondisi saat ini semenjak burung-burung impor sulit didapatkan karena mewabahnya virus flu burung. Penggemar burung kini memilih alternatif lain sebagai burung peliharaan, yaitu burung-burung kebun seperti ciblek, pleci, gelatik wingko, dsb. Akibatnya banyak perburuan liar terhadap spesies burung-burung liar itu untuk tujuan diperdagangkan, dan hal itu berpengaruh terhadap populasi beberapa spesies burung di alam liar dan juga terganggunya keseimbangan alam (coba hitung berapa banyak kasus serbuan ulat-ulat bulu di beberapa derah).

Sebagai seorang penghobi burung yang mau peduli dengan lingkungan, kita tentu akan menghindari untuk membeli burung-burung bakalan hasil tangkapan hutan sebagai bentuk tindak jera bagi para pemburu. Toh di pasar burung masih banyak jenis-jenis burung yang sudah jadi, mapan dan rajin berbunyi.

Selain itu silakan hitung berapa banyak burung bakalan yang mati hanya karena kita tidak bisa merawatnya, dan sayangnya hal itu bisa berlangsung hingga beberapa kali. Padahal kalau kita tinggal di negara tetangga sana, ada peraturan yang menegaskan kalau seorang pemilik burung tidak bisa merawat burung peliharaannya dengan baik (dua - tiga kali burung peliharaannya mati) maka lisensi mereka untuk memelihara burung akan dicabut dan mereka tidak diizinkan lagi untuk memelihara burung atau hewan peliharaan lainnya. Ya, kalau saja peraturan itu diterapkan di sini, mungkin sedikit bisa membantu peningkatan jumlah populasi burung di alam liar.

Bagaimanapun itu urusan pemerintah, karena kita tidak bisa memaksa orang untuk berhenti melakukan hal yang tidak kita inginkan. Mending sekarang kita bernostalgia dengan suara-suara kicauan dari burung-burung impor yang pernah popular pada tempo dulu. Oke, selamat mendownload .

  1. Suara kicauan burung poksay hongkong
    DOWNLOAD 
  2. Suara kicauan burung hwamei
    DOWNLOAD
  3. Suara kicauan burung poksay jambul
    DOWNLOAD 
  4. Suara kicauan burung robin
    DOWNLOAD
  5. Suara kicauan burung pancawarna
    DOWNLOAD
  6. Suara kicauan burung jalak hongkong
    DOWNLOAD
  7. Suara kicauan burung samho
    DOWNLOAD

Semoga manfaat dan salam kicau!


Produk khusus penangkaran omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Komentar spam akan langsung kami hapus

close