Masih ada burung betet liar di Jakarta

9/08/2014
Kota Jakarta sudah menjadi kota metropolitan yang hanya menyisakan sedikit ruang terbuka hijau untuk populasi burung dan hewan liar berkembangbiak. Tapi siapa sangka, kalau di antara hutan-hutan beton di sudut Kota Jakarta yang masih rimbun oleh pepopohan ternyata menyimpan berbagai jenis burung eksotis termasuk di antaranya adalah burung betet biasa (Psittacula alexandri). 

Seekor betet bertengger di ranting pohon. Foto: Jihad/ Burung Indonesia

Meski Jakarta sudah padat oleh pemukian penduduk, nyatanya burung yang berukuran 34 cm dengan 'kumis' hitam dan sayap hijau bersemburat kuning serta dada berwarna merah jambu ini tampak lebih mencolok di antara jenis-jenis burung yang umum di perkotaan seperti kutilang, burung gereja atau trucukan. Suara kicauannya yang parau dan nyaring membuat spesies burung ini mudah menarik perhatian.

 Burung betet biasa merupakan salah satu jenis burung paruh bengkok (parrots) yang masih umum dijumpai di beberapa daerah di Jawa. Dengan masih adanya pohon-pohon rimbun di pinggiran kota-kota besar ternyata menjai tempat habitat bagi burung betet tesebut beraktivitas dan berbiak. 

Karena itu, sangat disayangkan kalau sampai ada orang yang berulah dengan menangkapi mereka untuk dijual atau menjadi sasaran tembak senapan angin, terlebih populasi hewan dan burung liar yang berada di perkotaan sudah semakin menipis baik spesies dan populasinya. Pemerintah setempat dalam hal ini harus mulai berani memberlakukan peraturan yang lebih ketat mengenai pengawasan dan perburuan burung atau binatang liar yang ada di kota-kota besar. 

Pemburu biawak di sekitar Istana Bogor, haruskah kondisi seperti ini dibiarkan? | foto: Bogor Heritage


Menurut survey yang pernah dilakukan oleh Konservasi Kakatua Indonesia pada bulan April an Mei 2008, diperkirakan populasi Betet biasa yang berada di 12 lokasi di Jakarta berjumlah sekitar 117 individu. Populasi tersebut tersebar di beberapa lahan terbuka hijau seperti Monas, Senayan, Ancol, dan Masji Istiqlal. 


Dalam survey tersebut juga ditemukan bahwa betet biasa menyukai berhabitat di sekitar tanaman yang menjadi makanan utamanya,antara lain buah bungur Lagerstroemia speciosa, bunga tanjung Mimusops elengi, buah salam Syzygium polyanthum, buah palem raja Roystonea regia dan buah beringin Ficus benjamina. Sementara itu, jenis pohon yang dimanfaatkan untuk bersarang antara lain adalah flamboyan.

Betet biasa, burung yang masih bertahan di perkotaan. Foto: Tri Susanti/ Burung Indonesia
 
Sejatinya Red-breasted Parakeet ini tersebar luas di India, Cina Selatan, dan Asia Tenggara (kecuali Semenanjung Malaysia). Di Indonesia, jenis ini tersebar di beberapa pulau di kawasan Sunda Besar dan terbagi menjadi enam anak jenis.

Anak jenis pertama yaitu P. alexandri alexandri yang tersebar di Jawa dan Bali dan diintroduksikan ke Kalimantan Selatan. Sementara itu anak jenis P. a. kangeanensis hanya tersebar di Kepulauan Kangean, P. a. dammermani  di Kepulauan Karimunjawa, P. a. perionea tersebar di Pulau Nias, P.a major tersebar di Kepulauan Lasia dan Pulau Babi, dan P.a cala tersebar di Pulau Simeuleu.

Sekarang tinggal bagaimana kemauan kita dan penduduk setempat mau menjaga lingkungan dan kelestarian hewan dan burung liar yang berada didalamnya, atau mau membiarkan lingkungan kita rusak dengan sifat tidak peduli. Selain itu diperlukan sikap tegas pemerintah dalam upaya menjaga alam, lingkungan, dan hewan atau burung liar di dalamnya. 



Produk khusus penangkaran omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
close