Empat jenis ciung batu dan perawatan agar rajin bunyi

1/28/2015
Bagi sebagian orang, burung ciung mungkin dianggap sebagai burung yang pemalu lantaran jarang sekali mengeluarkan suara kicauannya. Bahkan tidak sedikit penggemar burung yang kemudian menjualnya kembali hanya lantaran tidak mendengarkan suaranya. Padahal, sebenarnya suara kicauan burung ciung sangat kencang bahkan bisa ngerol dan penuh variasi sebagaimana jenis burung cacing lainnya. 

ciung


Kebanyakan, burung ciung yang dipelihara didapat dari hasil tangkapan hutan yang rata-rata sudah berusia dewasa. Karena itu, ketika dipelihara mereka umumnya cenderung hanya mengeluarkan suara hutannya saja yang mirip suara kicauan burung kacer. Namun, jika dirawat dengan baik, terutama dari pemberian pakan tambahan (EF) yang tercukupi maka burung tersebut akan menampilkan suara kicauannya yang merdu.


Di Indonesia, ada empat jenis burung ciung yang tersebar di beberapa daerah, yaitu: 


burung ciung gacor


1. Ciung batu kecil
Ciung batu kecil atau javan whistling-thrush (Myophonus glaucinus), memiliki penyebaran cukup luas yang meliputi Sunda Besar, Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali. Di beberapa daerah ciung batu sering disebut juga sebagai ciung mungkal.
Ada beberapa perbedaan mencolok tergantung daerah asal penyebarannya, yaitu:

  • Ras Jawa glaucinus: Burung jantan memiliki tubuh bagian atas berwarna biru tua dan bagian bawah lebih kusam dan hitam, sedangkan burung betina mempunyai tubuh dengan warna lebih kusam. Yang membedakan dengan ciung batu siul adalah paruh yang hitam dan bulu yang tidak berkilau.
  • Ras Kalimantan borneensis: Burung jantan mempunyai tubuh berwarna keunguan tua, sedangkan burung betina berwarna coklat tua.
  • Ras Sumatera castaneus: Burung jantan mempunyai mahkota, tengkuk, dagu, tenggorokan, dada biru ungu tua; berubah menjadi coklat berangan di perut dan penutup ekor bawah; ekor, mantel, sayap coklat berangan, pundak biru terang.  Burung betina: coklat berangan.

2. Ciung batu siul
Ciung batu siul atau Blue whistling-thrush (Myophonus caeruleus) tersebar di Jawa, Sumatera, Malaysia, China, Asia Tenggara, India, dan Turkestan.
Spesies ini mempunyai tubuh berukuran lebih besar dengan bulu berwarna hitam berbintik putih pada penutup sayapnya. Sedangkan sayap dan ekornya tersapu warna keunguan yang berkilauan. 


3. Ciung batu Kalimantan
Ciung kalimantan atau borneon whistling-thrush (Myophonus borneensis) mempunyai penyebaran di Kalimantan. Burung jantan berwarna ungu tua sedangkan betina coklat tua. 


4. Ciung batu Sumatera
Brown-winged Whistling-thrush (Myophonus castaneus) memiliki penyebaran di Sumatera. Burung jantan memiliki mahkota, tengkuk, dagu, tenggorokan, dada biru ungu tua; berubah menjadi coklat berangan di perut dan penutup ekor bawah; ekor, mantel, sayap coklat berangan, pundak biru terang. Sedangkan burung betina mempunyai tubuh berwarna coklat berangan. 


Perawatan burung ciung 

Agar burung ciung mau mengeluarkan suara kicauannya dengan rajin, maka perawatannya bisa mengikuti pola rawatan burung jenis cacing atau anis lainnya. Misalnya rutin melakukan pengembunan, dan mandi malam. Jemur seperlunya dan digantung di tempat yang teduh dan sedikit lembab (sejuk). 

Sedangkan untuk pakan hariannya bisa diberikan: 

Buah-buahan yang bervariasi setiap harinya, seperti pisang, pepaya, dan sebagainya.
Cacing tanah 1 ekor pada malam hari setelah mandi malam, dan 2 ekor pada pagi setelah burung diembunkan, dan pada sore harinya cacing tanah diberikan sebanyak 1 ekor. 
Selain itu, kroto dan jangkrik bisa diberikan dengan jatah yang disesuaikan (secukupnya).

Dengan melakukan perawatan rutin tersebut, dalam waktu yang tidak terlalu lama burung ciung akan mulai berkicau dengan suara kicauannya yang lantang. 

Berikut video kicauan burung ciung yang sudah ngerol untuk anda.




Semoga manfaat

Iklan Premium Omkicau

Artikel Terkait

loading...