Wallacea, surganya burung-burung misterius

4/05/2015
Pada jaman dahulu, beberapa kawasan yang meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara sebenarnya kurang begitu dikenal oleh para pengamat burung dan juga ornitolog dunia. Namun anggapan tersebut berubah setelah seorang naturalis Inggris yaitu Alfred Russel Wallace menjelajahi daerah seluas 350.000 kilometer persegi itu dan menemukan bukti bahwa daerah yang sebelumnya dianggap miskin burung ternyata kaya akan burung endemik dan migran, termasuk beberapa jenis yang dianggap misterius.



Alfred Russel Wallace (cc) Wallacefund.info)


Di tempat tersebut, Wallace menemukan beberapa spesies burung yang di antaranya merupakan burung endemik yang berpenampilan cantik yang kemudian dijuluki dengan sebutan burung surgawi (birds of paradise), kemudian beliau mendeskripsikan batas-batas zoogeografis di kawasan yang dianggap unik itu. Sebagai bentuk penghormatan atas penemuannya itu, kawasan tersebut kemudian diabadikan dengan namanya yaitu Kawasan Wallacea.

Beberapa spesies burung yang ditemukan oleh Wallace di kawasan tersebut adalah bidadari halmahera (Semioptera wallacii), pleci / kacamata (Zosterops wallacii), walik wallacea (Ptilinopus wallacii), gosong maluku (Eulipoa wallacei), dan mandar gendang (Habroptila wallacii).

Bidadari halmahera atau Wallace's standarwings merupakan jenis burung unik yang sempat membuat Wallace terpukau dan terpikat oleh kecantikan dan tariannya. Spesies yang merupakan kerabat cenderawasih ini ditemukannya di Pulau Bacan sekitar tahun 1858, Walalce sempat menyebut jenis burung ini merupakan burung paling cantik dari kepulauan yang mirip bidadari.

Pada masa itu, penemuan spesies lain burung cenderawasih di kawasan tersebut merupakan kejutan besar bagi Wallace dan para ahli burung dunia. Hal itu lantaran, selama ini ada anggapan di kalangan mereka bahwa burung cenderawasih hanya ada di Papua, namun ternyata asisten Wallace yang orang melayu yaitu Ali menemukan jenis cenderawasih lain di luar Papua yaitu di Pulau Bacan, Halmahera.

Dalam sebuah tulisannya yang berjudul The Malay Archipelago: The Land of Orang-utan and The Birds of Paradise (1869), Wallace menyebutkan dalam buku yang ditulisnya setelah delapan tahun menjelajah Nusantara (1854-1863) itu bahwa sebenarnya burung bidadari halmahera adalah spesies burung yang biasa saja, dengan tubuh berwarna hijau daun dan sedikit keungu-unguan di pangkal ekornya, serta bagian kepala yang dihiasi mahkota berwarna ungu mengkilat, sedangkan leher dan dadanya hijau mengkilat.

Namun yang membuatnya terpesona adalah empat helai bulu panjang yang berwarna putih susu yang keluar dari pangkal sayap yang membuat spesies ini menjadi tampak unik. Bulu-bulu sepanjang enam inchi itu tampak sangat lembut dan seperti dianyam pada bagian sayapnya. Pada saat fajar menyingsing, burung ini akan memamerkan bulu-bulu tersebut sambil menari untuk menarik perhatian burung betina.



Selain bidadari halmahera, spesies burung misterius lain yang juga menarik perhatian Wallace adalah mandar gendang yang juga merupakan endemik Halmahera. Spesies burung ini memiliki sebutan gendang lantaran suaranya yang mengelegar seperti dentuman gendang. Yang menjadikan spesies ini menjadi misterius adalah karena meski suah berkali-kali di cari, namun burung mandar gendang tidak bisa ditemukan oleh pengamat burung atau para ilmuwan selama bertahun-tahun. Karena itulah, spesies ini mempunyai nama bahasa Inggris yang cukup unik yaitu invisible rail.

Saat ini, mandar gendang masuk dalam status rentan dan terus mengalami penurunan populasi akibat rusaknya habitat, deforestasi, dan aktivitas pemanenan sagu secara komersial oleh para penduduk sekitar, namun meski sudah dianggap sebagai satwa langka faktanya mandar gendang masih belum masuk dalam daftar jenis burung yang dilindungi.

Spesies burung lain adalah walik wallacea atau merpati buah yang ditemukan oleh Wallace di tajuk pepohonan. Anehnya, meski memiliki tubuh berwarna cerah, namun spesies ini sangat sulit untuk diamati ketika bertengger diam sambil memetik buah-buahan yang menjadi makanan kegemarannya. Kalau sudah begitu, para pengamat hanya bisa mendengarkan suara kepakan sayapnya saja ketika burung ini terbang keluar dari rimbunnya daun di pepohonan. Setelah itu mereka pun akan segera mencari-cari keberadaan burung lain yang masih bersembunyi di sekitar pohon tersebut, karena walik wallacea dikenal sebagai burung koloni.


Walik wallacea (kiri) dan mandar gendang
 

Disamping menemukan beragam spesies burung unik dan misterius di kawasan tersebut, dalam salah satu tulisannya yang berjudul On The Zoological Geography of The Malay Archipelago, Alfred Russel Wallace sempat menyatakan rasa herannya karena binatang seperti Gajah, Harimau, dan Badak hidup di kawasan barat Indonesia, sedangkan kuskus dan kasuari hanya ada di kawasan timur Indonesia, apalagi cenderawasih yang hanya ada di Papua.

Rasa herannya semakin menjadi tatkala mengetahui bahwa anoa, babirusa, dan dihe banyak ditemukan di Sulawesi dan tidak ditemukan di Kalimantan, padahal kedua pulau tersebut hanya dipisahkan oleh Selat Makassar. Yang lebih dramatis adalah ketika ia menemukan sejumlah spesies burung jalak bali yang hanya berkembang biak di Pulau Bali , sedangkan di Pulau Lombok yang hanya dibatasi oleh selat sepanjang 32 kilometer ia tidak menemukan keberadaan spesies burung cantik tersebut.

Atas kemisteriusan dan keanehan-keanehan yang ia temui selama menjelajah beberapa kawasan di Nusantara itu, Wallace memiliki kesimpulan bahwa ada batas-batas antara flora-fauna yang ditemukan di bagian barat yang mirip margasatwa Asia dengan bagian timur Nusantara yang memiliki flora-fauna yang mirip dengan yang ia temukan di Australia. Sejak itulah, Walalce memisahkan kedua bagian itu dengan garis pemisah yang membentang mulai dari Selat Lombok ke Selat Makasar dan kemudian ke arah timur Mindanao (Filipina) dan Sangihe.


Kawasan Wallacea yang dipisahkan oleh garis Wallacea
Kawasan Wallacea yang dipisahkan oleh garis Wallacea

Dari masing-masing daerah yang terbagi oleh garis pemisah tersebut, Wallace mendeskripsikan beberapa spesies khusus yang mendominasi sebuah kawasan ekologis, sedangkan pada jarak tertentu dari garis itu ( sekitar 32 km) ada spesies lainnya. Belakangan, teori Wallace itu didukung oleh Thomas Henry Huxley yang kemudian menyebut garis itu dengan nama Garis Wallace.

Dalam khazanah burung Indonesia, kawasan Wallacea dikenal juga sebagai tempat bagi 697 jenis burung yang beberapa di antaranya merupakan burung penetap dan migran. Dari jumlah tersebut, 249 jenis adalah burung endemik yang unik dan tidak ditemukan di daerah lainnya di Nusantara.



Semoga menambah pengetahuan.
Produk khusus penangkaran omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Komentar spam akan langsung kami hapus

close