Mengenal apa itu CITES

9/01/2015
Dalam dunia tumbuhan dan satwa liar kita sering mendengar atau melihat kata-kata CITES. Apakah CITES itu? apa kaitannya dengan dunia perburungan yang kita gemari. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering hinggap dalam benak para kicaumania. Karena itu, kami akan menjelaskan sedikit mengenai apa itu CITES. 

cites indonesia


CITES adalah singkatan dari Convention on International Trade in Endangered Species yang jika diterjemahkan berarti Konvensi Perdagangan Internasional untuk tumbuhan dan satwa liar. Konvensi ini sudah berlangsung sejak tahun 1975. Sedangkan Pemerintah Indonesia baru meratifikasi atau mengesahkan konvensi itu pada tahun 1978 melalui Surat Keputusan Pemerintah No. 43 tahun 1978.

CITES itu sendiri merupakan perjanjian global yang lebih berfokus pada perlindungan satwa dan tumbuhan liar untuk perdagangan internasional yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yang bisa saja membahayakan kelestarian dari tumbuhan atau satwa liar tersebut. 



Melalui CITES ini juga segala bentuk perdagangan tumbuhan dan satwa liar seperti burung-burung yang dilindungi atau tidak dilindungi di atur tata cara perdagangannya. Dengan begitu kelangsungan dan kelestarian dari burung tersebut di daerah penyebarannya bisa tetap terjaga. 


Ada tiga lampiran Appendix yang terdapat dalam peraturan CITES yaitu: 


  1. Appendix I, berisi daftar dan melindungi seluruh species tumbuhan dan satwa liar yang terancam dari segala bentuk perdagangan.
  2. Appendix II, berisi daftar dari species yang tidak terancam kepunahannya, tetapi memungkinkan terancam punah apabila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.
  3. Appendix III, berisi daftar species tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di suatu negara tertentu dalam kawasan habitatnya, dimana Appendix III memberi pilihan bagi negara-negara anggota untuk di masukkan ke Appendix II atau Appendix I.

Nah, Appendix itulah yang diperlukan dalam setiap bentuk perdagangan baik itu tumbuhan maupun satwa liar yang ada di sebuah negara. Perjanjian ini sendiri telah menjadi komitmen dari 145 negara anggotanya, dan menjadi bentuk proses dimana negara-negara anggota bekerja sama untuk menjamin bahwa perdagangan tumbuhan dan satwa liar ini bisa terlaksana sesuai dengan konvensi CITES.


Badan administrasi atau kantor pusat CITES berada di Geneva dan Swiss, selain itu CITES pun telah menyiapkan dokumen-dokumen asli yang ditulis dalam tiga bahasa yaitu Prancis, Inggris dan Spanyol.  Setiap dua tahun sekali, negara-negara anggota CITES mengadakan konferensi CITES yang mengevaluasi sejauh mana perjanjian tersebut telah terlaksana dan juga menetapkan pemecahan atas segala permasalahan dan isu-isu yang berkembang berkaitan dengan kebijaksanaan, serta untuk menentukan daftar spesies tumbuhan atau satwa liar yang dilindungi. 


DI Indonesia terdapat setidaknya 1.548 spesies satwa liar dan 907 spesies tumbuhan yang berada dalam daftar Appendix CITES, dengan rincian sebagai berikut: 

  1. Appendix I melindungi 84 spesies satwa liar dan 27 spesies tumbuhan.
  2. Appendix II melindungi 1.365 spesies satwa liar dan 880 spesies tumbuhan.
  3. Appendix III melindungi 9 spesies satwa liar.
Beberapa jenis satwa liar Indonesia yang masuk dalam daftar Appendix I antara lain: macan tutul, gajah sumatera, badak jawa, badak sumatera, kakatua kecil jambul kuning, maleo, dan orangutan sumatera.

Iklan Premium Omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Komentar spam akan langsung kami hapus