Raja udang, burung unik yang kehilangan habitat

1/26/2016
Walaupun memiliki nama raja udang, namun burung cantik dengan bulu berwarna warni dan paruh agak kebesaran ini tidak hanya memangsa ikan atau udang saja sebagai makanannya. Beberapa spesies lebih menyukai memangsa ular, kepiting, kadal atau bahkan serangga. Namun yang membuat banyak orang terkesima adalah kepiawaiannya sewaktu berburu ikan di dalam sungai. Raja udang, sangat disayangkan kalau spesies burung ini harus terancam punah lantaran habitatnya yang rusak dan tercemar. 

Raja udang, burung unik yang kehilangan habitat



Burung raja-udang memang amat lihat dalam menagkap ikan. Pada waktu berburu itu, mereka akan bertengger pada sebuah ranting pohon yang menjulang di atas permukaan air. Burung ini dengan sabar memperhatikan ikan-ikan yang asyik berenag di bawahnya. Ketika timingnya sudah dirasa pas dan dengan memperhitungkan pembiasan cahaya, burung ini akan menukik sambil mengepak-ngepakkan sayapnya untuk menambah kecepatan.



Jika ikan itu berada dekat permukaan maka ia bisa langsung mencaploknya, jika tidak sayapnya akan dilipat yang membuat kecepatannya bertambah di dalam air laksana panah untuk menangkap buruannya yang tidak akan mampu menghindar. Sekali berburu, ia bisa mendapatkan beberapa ekor ikan sekaligus!. 


 

Pada musim kawin, burung raja udang mempunyai kebiasaan yang cukup unik. Untuk mendapatkan pasangannya, burung jantan akan berkejar-kejaran dengan si betina di udara dengan kecepatan tinggi. Setelah itu, si jantan akan memamerkan keterampilannya menggali sarang  lalu menawari si betina dengan makanan lezat. Tidak seperti burung lain, raja udang bersarang dalam sebuah terowongan yang mereka gali di tebing pinggiran sungai, bahkan ada juga yang bersarang di bekas lubang kelinci atau di lubang batang pohon. 



Ketika membuat sarang, seekor raja udang akan menggali terowongan dengan menggunakan paruhnya yang besar. terowongan itu dalamnya bisa mencapai setengah atau satu meter. Pada awalnya membuat terowongan ini cukup sulit dan penuh resiko, karena beberapa spesies akan terbang lurus menghantam tebing dengan parh terentang. Setelah mulai didapatkan permukaan yang lunak, mereka segera menggalinya. Namun tidak semua raja udang membangun sarang di dalam lubang, karena di hutan hujan tropis Papua dan Australia, raja udang firdaus akan menggali lubang di dalam gundukan sarang rayap. 


Membesarkan anak-anaknya pun bukan perkara mudah dan itu dilakukannya dengan penuh kerja keras. Bayangkan saja, seekor indukan raja udang akan mengantarkan sekitar 60 - 70 ekor ikan untuk memberi makan anak-anaknya.  Karena itu, raja udang sangat tergantung pada habitat yang masih alami dan sungai-sungai yang belum tercemar oleh limbah industri maupun rumah tangga. 



Dulu spesies burung ini sering ditemukan di sekitar sungai-sungai, namun jumlah populasi penduduk yang meningkat pesat membuat kawasan hijau pinggiran sungai berubah menjadi kawasan pemukiman. Tebing-tebing yang dulu menjadi tempat bersarang mereka telah berganti tebing beton untuk menyangga rumah-rumah. 

Limbah-limbah rumah tangga dan industri membuat sungai tercemar, ikan pun sulit didapat. Kalau sebelumnya mereka bisa menangkap lebih dari 60 ekor sehari, kini mendapatkan satu ekor ikan pun sudah dianggap beruntung. Apalagi warna air sungai yang tidak sebening dulu, sehingga sulit sekali mengetahui apakah ada ikan di dalamnya. 

Hilangnya habitat justru semakin memperparah statusnya. Banyak burung raja udang yang alami kepunahan. Namun untuk menjaga populasinya tidak cukup dengan memberikannya gelar burung dilindungi saja, tapi diperlukan perhatian dan kepedulian dari semua kalangan. 
 
Salam.
 
Iklan Premium Omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Komentar spam akan langsung kami hapus