Muara Angke, habitat terakhir burung-burung di Pulau Jawa

2/26/2016
Dari sekian banyak ruang terbuka hijau dan kawasan hijau yang mulai beralih fungsi menjadi pemukiman penduduk, Muara Angke adalah hutan tersisa di Jakarta yang menjadi habitat bagi beragam jenis burung liar, baik penetap maupun pengembara. 

Suaka margasatwa Muara Angke


Suaka margasatwa Muara Angke atau SMMA adalah sebuah kawasan konservasi yang berada di wilayah hutan mangrove di pesisir utara Jakarta. Kawasan ini termasuk dalam wilayah Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Di sisi utara terdapat hutan lindung Angke-Kapuk yang dikelola oleh Dinas Kehutanan DKI Jakarta. 

Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 17 Juni 1939 menetapkan kawasan SMMA ini sebagai cagar alam, dengan luas 15.04 ha. Kawasan ini kemudian diperluas menjadi sekitar 1.344.62 ha sekitar tahun 1960-an. Namun karena kerusakan yang terjadi di dalam dan sekitar Muara Angke oleh melonjaknya jumlah penduduk di Jakarta, membuat Pemerintah mengubah statusnya menjadi suaka margasatwa pada tahun 1998. Kawasan ini pun kini hanya memiliki lahan seluas 25.02 ha. 


Terdapat sekitar 105 jenis burung bisa yang bisa dijumpai di kawasan suaka margasatwa Muara Angke ini seperti pecuk-ular asia (Ahinga melanogaster), punai gading (Treron vermans), belibis kembang (Dendrocygna arcuata), burung-sepatu teratai (Hydrophasianus chirurgus), mandar besar (Porphyrio porphyrio), tikusan merah (Porzana fusca) sampai blekok sawah dan kuntul.

Selain burung-burung air, kawasan suaka margasatwa ini juga menjadi habitat bagi beberapa jenis burung lain yang terancam punah seperti bangau bluwok (Mycteria cinerea), elang bondol (Haliastur indus) yang ditetapkan sebagai maskot Jakarta, elang-laut perut putih (Haliaestus leucogaster), bubut jawa (Centropus nigrorufus) dan Jalak putih (Sturnus melanopterus). 

Elang bondol

Kini, kondisi SMMA sudah sangat mengkhawatirkan, selain masalah eceng gondok yang semakin sulit dibasmi karena sudah merajalela selama bertahun-tahun, masalah sampah pun menjadi hal yang merusak pemandangan dan mencemari perairan yang menjadi habitat beragam jenis ikan yang menjadi makanan burung. 

Eceng gondok yang semakin sulit dibasmi di SMMA


Sampah-sampah tersebut berasal dari Kali Angke maupun yang dibawa oleh pengunjung dan akibat semakin padatnya kawasan pemukiman di sekitar kawasan tersebut. Jika tidak segera ditangani, bisa memberi dampak kurang baik bagi kehidupan burung yang ada di kawasan ini. Terlebih lagi BirdLife Internasional sudah memasukkan suara margasatwa ini sebagai Daerah Penting bagi Burung atau DPB di Pulau Jawa. 



Produk khusus penangkaran omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
close