Meminimalisir resiko pada burung murai batu bakalan

2/24/2016
Murai batu adalah jenis  burung kicauan yang paling banyak digemari kicaumania di Indonesia dan mancanegara. Spesies burung berekor panjang ini mempunyai suara yang cukup nyaring serta penuh variasi. Terkait pemeliharaannya,  tidak sedikit orang lebih memilih murai batu bakalan lantaran harganya yang terjangkau walau harus menanggung resikonya, antara lain burung yang rentan sakit atau bahkan mati. Tips berikut membantu anda meminimalisir resiko pada murai batu bakalan. 


Cermat memilih burung di pasar

 
Pada umumnya, murai batu bakalan yang baru saja anda beli di lapak-lapak pasar burung didapatkan dari hasil tangkapan hutan. Karena itu pula banyak dari burung-burung tersebut yang belum beradaptasi baik dengan makanan maupun sangkar yang digunakan. 

Untuk meminimalisir resiko murai batu terkena stres yang bisa mengakibatkan burung stres atau sakit, maka kita wajib melatihnya untuk beradaptasi terutama dengan sangkar dan lingkungannya, kemudian setelah itu baru dilatih dengan makanannya. Dengan cara begitu, burung akan mampu bertahan hidup di tempat barunya.  


Memilih dan merawat murai batu bakalan 


Ada beberapa jenis burung murai batu yang beredar di pasaran yang dianggap memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, namun dari segi kemampuan suara, semua jenisnya tersebut sama-sama memiliki suara yang lantang, merdu dan variasi. 


Memilih murai batu bakalan terutama dalam kandang ombyokan memerlukan  kejelian kita sewaktu memilihnya. Hal ini diperlukan jika kita ingin mendapatkan burung yang sehat , aktif dan diprediksi bakal rajin berkicau. 


Ada beberapa metode yang sudah umum dalam pemilihan murai batu bakalan ini, antara lain: 

  • Memilih burung yang sedikit lebih lincah
  • Sayap mengapit dengan kencang tidak terkulai / posisi sayap selalu diturunkan
  • Tidak memilih burung yang sering mengembangkan bulu-bulunya, kurang aktif, selalu tidur, tidak mau bertengger dan selalu berada di bawah.
  • Tidak memilih burung yang cacat atau mengalami masalah / sakit pada bagian kaki dan matanya.
  • Setelah anda mendapatkan burung yang diinginkan,  maka tempatkanlah burung tersebut dalam sangkar baru atau yang sudah disiapkan yang sebelumnya telah dibersihkan terlebih dahulu. 

Untuk hari pertama, berikan pakan kroto secukupnya dalam cepuk pakannya serta air minum yang bersih dan segar di dalam cepuk minumnya. Setelah pakan dan minumya siap, berikan full kerodong lalu gantang burung di tempat yang tenang. Hal ini bertujuan untuk menenangkan dan melatih burung beradaptasi, dan selama proses pengkerodongan itu, pakan tambahan lain seperti jangkrik, ulat atau belalang bisa diberikan. 


Proses pengkerodongan biasanya berlangsung selama satu-dua hari atau sampai tergantung kondisinya.Setelah diyakini burung mulai rada tenang, maka pelatihan berikutnya adalah melatihnya makan voer. 


Pelatihan makan voer bisa dilakukan sambil burung tetap dikerodong atau dilepas kerodongnya. Agar burung mau memakan voernya, maka cara yang harus dilakukan adalah: 


  • Membeli voer halus / lembut  yang berkualitas dan mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi.
  • Voer halus tersebut kemudian dimasukkan dalam cepuk pakannya, lalu diberi sedikit air dan diaduk hingga menjadi adonan kasar.
  • Setelah itu, ambil satu setengah sendok teh kroto segar yang bersih, lalu campurkan ke dalam adonan voer tersebut, kemudian aduk hingga bercampur merata. Jangan lupa ambil sedikit kroto lalu taburkan di bagian atasnya. Berikan pada burung.
    Lakukan hal tersebut sampai dua hari ke depan, setelah itu atau pada hari ketiga, campuran kroto mulai sedikit dikurangi dan dilakukan selama dua hari ke depan.
  • Pada hari berikutnya, takaran kroto mulai semakin dikurangi sedangkan voer halus ditambahkan sedikit dan kali ini tidak menggunakan air untuk mencampurnya. Campurkan kroto dengan voer halusnya lalu aduk hingga merata.
  • Di hari berikutnya, takaran kroto mulai dikurangi dan berlanjut terus sampai burung benar-benar terlihat mengkonsumsi voer halusnya. 

Perubahan pakan dari serangga ke voer bisa terlihat dari kotoran yang dikeluarkan oleh burung tersebut. Murai batu yang masih belum makan voer cenderung mengeluarkan kotoran encer bercampur keputihan, sedangkan untuk yang sedang dalam proses makan voer, kotorannya berbentuk gumpalan encer bercampur warna hijau dan putih. Namun jika burung sudah benar-benar memakan voernya, maka kotorannya akan berbentuk padat dan berwarna sesuai warna dari voer tersebut (hijau). 


Setelah burung murai batu mulai terbiasa makan voernya, maka tahap selanjutnya adalah mulai menerapkan perawatan hariannya yang dilanjut ke tahap pemasteran. 


Salam
Iklan Premium Omkicau

Artikel Terkait