Seriwang sangihe, di antara "hidup dan mati"

2/28/2016
Sebenarnya burung seriwang sangihe sudah lama dikenal dalam taksonomis burung dunia, koleksi spesimen burung ini pertama kalinya dikumpulkan oleh seorang naturalis berkebangsaan Jerman, AB Meyer di tahun 1873. Tapi, semenjak itu keberadaan spesies ini tidak pernah tercatat kembali.

Seriwang sangihe

Selama bertahun-tahun para peneliti beranggapan bahwa burung yang memiliki nama latin Eutrichomyias rowley ini dianggap telah punah, sampai kemudian pada tahun 1978, seorang ornitholog Inggris, M.D Bruce mengaku telah melihat seekor seriwang sangihe ini di sekitar Gunung Awu, di utara Pulau Sangihe, Sulawesi Utara.

Hanya saja, tidak bukti yang mendukung pengakuannya tersebut. Sampai pada tahun 1998 saat tim ekspedisi pimpinan John Riley dan James C Wardill dari University of York dan University of Leeds menemukan jenis burung kembali. 


Sayangnya, dalam penemuan kembali spesies burung tersebut, tak ada satu pun orang lokal yang mengenal atau mengetahui apa nama jenis burung endemik Sangihe ini. Bahkan burung ini tidak memiliki nama dalam bahasa lokal mereka, sampai kemudian tim menggunakan nama Niu untuk menyebut nama burung ini. Niu adalah warga setempat yang pertama kalinya menemukan kembali seriwang sangihe dalam ekspedisi tersebut. Sejak saat itulah, seriwang sangihe dikenal dengan nama burung niu atau manu' niu oleh masyarakat setempat. 


Walaupun keberadaan burung niu ini sudah ditemukan kembali setelah 17 tahun 'menghilang', namun spesies burung ini masih berada dalam status Kritis lantaran sempitnya wilayah penyebaran dan populasi yang sangat kecil, dengan jumlah kurang dari 150 ekor. Selain itu, banyak masyarakat sekitar yang belum mengenal jenis burung seriwang sangihe ini, dan mereka kadang salah mengidentifikasinya sebagai burung-madu sangihe atau Aethopyga duyvenbodei,  padahal penampilan keduanya sangat jauh berbeda. 


Seriwang sangihe


Seriwang sangihe adalah burung dengan tubuh berukuran sekitar 18cm, paruh tebal dan pendek, bulu dada bagian atas berwana biru gelap sedangkan tubuh bagian bawah berwarna abu-abu pucat. Sedangkan burung-madu sangihe memiliki tubuh berukuran kecil (12 cm) dengan bentuk paruh panjang melengkung ke bawah. Selengkapnya tentang burung-madu sangihe, silakan buka lagi tulisan sebelumnya di sini: 



Burung seriwang sangihe adalah jenis yang tidak umum dijumpai maupun dikenali oleh banyak masyarakat karena penyebaran dan habitatnya yang sangat terbatas. Jenis burung ini hanya bisa dijumpai di lembah Pegunungan Sahendarumah yang berada jauh dari pemukiman. 


Selain burung seriwang sangihe dan burung-madu sangihe, kawasan ini juga menjadi habitat bagi spesies burung kacamata paling langka di dunia yaitu kacamata sangihe

 

Salam


Produk khusus penangkaran omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Komentar spam akan langsung kami hapus

close