Elang Jawa inspirasi Garuda yang kian langka

6/02/2016
Setiap tanggal 1 Juni Indonesia memperingatinya sebagai hari lahir Pancasila. Berbicara mengenai Pancasila tentu tidak lepas dari burung Garuda yang menjadi lambang negara sejak 15 Februari 1950. Dalam mitologi, Garuda adalah sosok manusia setengah burung yang menjadi tunggangan Dewa Wisnu, namun dari dunia nyata, jenis burung yang menginspirasi kemunculan Garuda adalah elang jawa burung endemik Pulau Jawa yang langka.




Elang jawa mempunyai tubuh berukuran sedang, berbadan tegap dengan bulu-bulunya yang lebat. Ukuran panjangnya bisa mencapai 70cm. Bulu di punggungnya berwarna gelap, sisi kepala berwarna coklat kemerahan dengan coretan vertikal di kerongkongannya. Bagian dada terdapat garis hitam berlatar kuning kecoklatan. Ketika terbang, elang jawa mampu menekuk kedua sayapnya ke atas seperti huruf "U". 

Salah satu ciri khas elang jawa adalah jambulnya yang panjang, jambul itu pula yang kemudian diterapkan pada lambang negara burung Garuda setelah sebelumnya sempat tanpa jambul. Elang jawa mulai ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia sejak tahun 1992, dari populasi yang pernah tercatat keberadaannya di Jawa adalah sekitar 600 ekor.

Selain perburuan liar dan rusaknya habitat, kebiasaan elang jawa betina yang hanya bertelur dua tahun sekali membuat populasi elang jawa terus mengalami penyusutan. Elang jawa mulai bereproduksi setelah berumur 3 - 4 tahun, selain itu spesies burung ini diketahui memiliki sifat monogami yaitu hidup dengan satu pasangan seumur hidupnya. 

Secara umum, elang jawa hanya bisa hidup di Pulau Jawa. Habitatnya adalah pohon jawa seperti rasamala dan memangsa tikus jawa sebagai pakan utamanya. Di beberapa daerah, habitat elang jawa yang potensial semakin sulit ditemukan. Beberapa hutan mulai gundul terutama di hutan kawasan Merapi  akibat bencana erupsi beberapa waktu lalu dan hutan pegunungan Dieng yang dibabat habis untuk keperluan pertanian. 

Selain banyak diburu di alam, elang jawa ternyata juga banyak diperjualbelikan setelah menjamurnya hobi falconry atau dipelihara untuk dilatih ketangkasan.  Di beberapa negara, hobi falconry memang dilegalkan karena burung-burung yang dilatih itu berasal dari penangkaran resmi. Berbeda dengan di negara seperti jepang, Korea dan Amerika di Indonesia sebagian besar burung elang yang diperjualbelikan berasal dari tangkapan alam. 

Dilansir dari mongabay, meskipun falconry sudah dianggap sebagai budaya dan dilindungi oleh UNESCO namun tidak semua budaya bisa direfleksikan masuk ke Indonesia. Harus ada kajian dampak positif dan negatifnya, terlebih lagi elang jawa sudah dianggap sebagai jenis burung dilindungi melalui keputusan Presiden No.4 tahun 1993. Sepanjang tahun 2015 saja tercatat 2292 ekor elang dari 21 jenis diperdagangkan secara ilegal di internet dan media sosial.



Iklan Premium Omkicau

Artikel Terkait

loading...