Beberapa jenis burung yang diduga kuat telah punah di Indonesia

10/22/2016
Kehilangan sesuatu yang sangat berharga tentu akan membuat kita merasa sedih, begitu pun ketika mengetahui fakta bahwa ada beberapa spesies burung di Indonesia yang patut diduga sudah punah. 


Walau begitu, diperlukan penelitian lanjutan yang lebih serius untuk memastikan kepunahannya, karena tak jarang spesies burung yang dianggap sudah hilang dari muka bumi ternyata masih bisa ditemukan tanpa sengaja. Berikut daftar burung diduga sudah punah di Indonesia.
 

Seperti dikutip dari kutilang.or.id, suatu jenis burung bisa dikatakan sudah punah jika tidak ditemukan lagi individu jenis burung tersebut yang masih hidup di muka bumi. Namun sebagai manusia kita tentu tidak mempunyai kekuasaan untuk menyatakan apakah burung tersebut sudah punah atau belum punah karena pasti akan ada perdebatan mengenai hal itu.
 

Untuk menghindari perdebatan tersebut, dibuatlah kesepakatan mengenai kriteria kepunahan.  Badan konservasi internasional untuk alam dan sumber daya hayati atau IUCN telah menyusun beberapa kriteria kepunahan yang jika diartikan adalah sebagai berikut:
 

Suatu jenis burung dapat dikatakan punah jika tidak ada lagi keraguan yang sahih atau sanggahan yang dilengkapi dengan bukti kuat terhadap fakta-fakta yang mengatakan bahwa individu terakhir dari suatu jens burung telah mati atau musnah dari muka bumi.
 

Sedangkan kriteria terkait kepunahan di alam, IUCN menyebutkan bahwa suatu jenis burung dapat dikatakan punah di alam jika individu yang tersisa hanya hidup di sangkar, atau di penangkaran, atau hanya individu yang lepas di luar wilayah penyebaran alaminya.
 

Untuk menyatakan bahwa satu jenis burung telah dianggap punah tentu membutuhkan survet dengan metode yang tepat. Survey tersebut dilakukan elama satu siklus hidup jenis burung yang dianggap punah tersebut di habitat yang sesuai dalam wilayah penyebarannya. 

Sekitar tahun 2011, IUCN telah menerbitkan daftar 136 jenis burung yang secara global telah dinyatakan punah dan punah di alam. Dari beberapa jenisnya tersebut pada tahun 2011 IUCN telah mempublikasikan daftar 136 jenis burung yang secara global telah dinyatakan punah dan punah di alam. Untungnya, dari ratusan jenis burung tersebut, tidak ada satu pun spesies burung Indonesia yang masuk dalam daftar mereka. 

Walaupun begitu, dengan menggunakan kriteria IUCN maka kita akan menemukan beberapa jenis dan anak jenis atau ras yang dianggap telah punah di alam. 

Berikut daftar beberapa spesies burung yang patut diduga kuat telah punah di dalam wilayah Indonesia.


A. Jenis-jenis dan anak jenis (ras) yang patut diduga kuat telah punah dan punah di alam pulau Jawa dan Bali.

1. Trulek Jawa Vanellus macropterus*
 
Belum ada bukti kuat perjumpaan kembali dengan jenis ini di Pulau Jawa sejak tahun 1940.

Foto diambil dari koleksi pribadi orang Swiss

2. Raja-udang Kalung-biru (ras pulau Jawa), Alcedo euryzona euryzona*

Spesimen (selanjutnya kita sebut saja: awetan) ras pulau Jawa terakhir kali dibuat pada tahun 1937. Belum ada bukti kuat perjumpaan dengan ras ini di pulau Jawa sejak saat itu. Hanya ada satu laporan perjumpaan yang tidak terkonfirmasi pada tahun 1950’an.

3. Caladi batu (ras pulau Jawa), Meiglyptes tristis tristis*
 
Kelangkaan terjadi akibat perusakan habitat selama abad ke-19. Catatan perjumpaan terakhir dengan jenis ini terjadi di tahun 1880, dan hampir dapat dipastikan telah punah pada awal abad ke-20. Masih terdapat beberapa laporan perjumpaan di Taman Nasional Gunung Halimun, namun belum terkonfirmasi dengan bukti yang cukup kuat.

4. Cucak rawa, Pycnonotus zeylanicus**
 
Nash (1994) mencatat bahwa popularitas Cucak rawa sebagai burung peliharaan telah mengakibatkan penangkapan secara besar-besaran sehingga mengakibatkan burung ini punah di pulau Jawa. Masih terdapat beberapa laporan perjumpaan di pulau Jawa, namun tidak disertai dengan bukti yang cukup kuat.

5. Mentok rimba , Cairina scutulata**
 
Kemungkinan besar telah punah di Pulau Jawa. 

6. Celepuk merah, Otus rufescens rufescens**
 
Tidak pernah ada catatan perjumpaan dengan bukti yang kuat di Pulau jawa sejak awal abad 20. 

7. Kambangan coklat, Aythya australis**
 
Tidak pernah ada catatan perjumpaan kembali sejak ditemukan pertama kali tahun 1937 di Dataran Tinggi Hyang, Jawa Timur. Kemungkinan besar merupakan burung yang tersesat (vagran) ke pulau Jawa. 

8. Celepuk raja, Otus brooki**
 
Tidak pernah ada catatan perjumpaan kembali sejak ditemukan pertama kali tahun 1916 di Dataran Tinggi Ijen, Jawa Timur. 

9. Pijantung telinga-kuning, Arachnothera chrysogenys chrysogenys**
 
Tidak pernah ada catatan perjumpaan kembali di Jawa sejak tahun 1929. Meski demikian burung ini masih dapat dijumpai di Sumatera dan daerah persebaran lainnya. 

B. Jenis-jenis dan anak jenis (ras) yang patut diduga kuat telah punah di alam pulau Sumatera dan Pulau-pulau kecil di sekitarnya.

1. Cucak gelambir-biru (ras Sumatra), Pycnonotus nieuwenhuisii inexspectatus*
Ras yang hanya diketahui dari satu awetan yang dibuat tahun 1937 dan tidak ada catatan perjumpaan kembali di Sumatera setelah itu. Kemungkinan merupakan jenis hasil hibrid atau kawin silang.

Pycnonotus nieuwenhuisii inexspectatus
Buurng ditangkap 21 Maret 1937 di Lesten, Aceh, Sumatra utara. @OBI

2. Puyuh-gonggong kalung (ras Sumatra) Arborophila charltoni atjenensis** Sinonim: Tropicoperdix charltonii atjenensis
 
Ras yang hanya diketahui dari satu awetan yang dibuat tahun 1939 dan tidak ada catatan perjumpaan kembali di Sumatera setelah itu.


3. Sempidan aceh Lophura hoogerwerfi**
 
Hanya sekali ditemukan sejak tahun 1940’an. 

4. Bubut teragop Centropus rectunguis**
 
Belum ada bukti kuat perjumpaan kembali dengan jenis ini di pulau Sumatera sejak tahun 1976. 

5. Sikatan aceh Cyornis ruckii **
 
Belum ada bukti kuat perjumpaan kembali dengan jenis ini sejak pertama kali ditemukan antara tahun 1917 – 1918.
C. Jenis-jenis dan anak jenis (ras) yang patut diduga kuat telah punah di alam di wilayah Pulau Kalimantan dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. 

1. Pelanduk Kalimantan Malacocincla perspicillata* Sinonim: Malacocincla perspicillatum
 
Hanya diketahui dari satu awetan yang dibuat di sekitar Martapura atau Banjarmasin, Kalimantan selatan antara tahun 1843 sampai 1848. Belum ada catatan perjumpaan yang meyakinkan sampai dengan saat ini. Burung ini mungkin sudah punah, namun belum tertutup kemungkinan masih ada karena sedikitnya usaha pencarian terhadap jenis ini. 

2. Tikusan kerdil (ras Kalimantan) Porzana pusilla mira*
 
Ras yang hanya diketahui dari satu awetan yang dibuat tahun 1912 dan tidak pernah ditemukan kembali sesudah itu sehingga patut diduga kuat telah punah. Jenis ini memang sangat sulit ditemukan di lapangan. 

D. Jenis-jenis dan anak jenis (ras) yang patut diduga kuat telah punah di alam di wilayah Pulau Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. 

1. Celepuk siau, Otus siaoensis* Sinonim: Otus manadensis siaoensis
 
Hanya diketahui dari awetan yang dibuat tahun 1866. Burung endemik di Siau, Sulawesi Utara, sebuah pulau vulkanik kecil. Mungkin belum punah karena beberapa catatan deskripsi perjumpaan diketahui mirip dengan jenis ini. Meski demikian bukti yang lebih kuat diperlukan untuk menyatakan bahwa jenis ini belum punah. 

2. Nuri talaud (ras pulau Sangihe, Siau dan Ruang) Eos histrio histrio*
 
Populasi terbesar yang masih tersisa dari jenis ini adalah ras Eos histrio talautensis yang masih bisa ditemukan di pulau Karakelang, kepulauan Talaud. Perburuan dan perdagangan membuka kemungkinan besar adanya burung-burung dari ras Eos histrio talautensis yang terlepas di luar daerah persebaran alaminya yaitu di kepulauan Talaud. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya kawin silang atau hibrid sehingga ras Eos histrio histrio dan Eos histrio challengeri dapat menjadi punah.

3. Udang-merah Sulawesi (ras kepulauan Sangihe dan Talaud), Ceyx fallax sangirensis*
 

Ras kepulauan Sangihe ini telah mendekati kepunahan atau bahkan mungkin telah punah. Teramati terakhir tahun 1997, dan tidak pernah teramati kembali pada tahun-tahun sesudahnya sampai dengan saat ini. Sementara saudara satu spesiesnya Ceyx fallax fallax yang terdapat di Pulau sulawesi dan tepi pantai pulau Lambeh masih dapat dijumpai dengan relatif mudah. 

4. Bubut ayam (ras pulau timor), Centropus phasianinus mui*
 
Ras yang hanya diketahui dari satu awetan yang dibuat tahun 1984 dan tidak pernah ditemukan kembali sesudah itu. Masih sangat misterius karena memiliki perbedaan nyata dengan lima ras yang lain, bahkan dimungkinkan sebagai jenis tersendiri.

Sumber:
Kutilang.or.id : burung punah di Indonesia
*http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_extinct_birds
**Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan
Iklan Premium Omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »