Tambahan perlindungan untuk rangkong gading kalimantan

10/10/2016
Rangkong gading (Rhinoplax vigil) yang hidupnya selalu terancam karena helm seperti gading yang ada di kepalanya itu kini mendapatkan status perlindungan tambahan dalam konferensi CITES yang baru-baru ini diselenggarakan di Johannesburg. 




Populasi rangkong gading di dunia terus mengalami penurunan selama beberapa tahun terakhir ini akibat perburuan liar karena tingginya permintaan akan 'gading merah' yang menjadi bagian dari paruh burung tersebut. 

Di Cina saja, harga paruh rangkong tersebut bisa lebih mahal lima kali lipat dari gading gajah. Akibatnya perburuan dan penangkapan liar terhadap spesies burung ini semakin marak yang tujuannya hanya untuk mengambil  bagian paruhnya saja. 

Rangkong gading adalah spesies rangkong terbesar di Asia yang banyak ditemukan di hutan tropis Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Myanmar. Spesies burung ini dikenal karena mempunyai suara panggilan yang mirip suara ketawa terkekeh. 

Selama bertahun-tahun, jenis burung ini terancam oleh deforestasi berkelanjutan ditambah dengan semakin meluasnya perkebunan kelapa sawit.
Rangkong banyak diburu bukan karena kecantikan bulu atau suaranya saja, melainkan casque atau cula/balung di atas kepalanya yang membuat  spesies burung kian terancam kepunahan. 


Cula atau balung tersebut cukup istimewa, karena berbeda dengan cula yang dimiliki spesies burung lainnya cula / balung pada rangkong terbuat dari keratin padat yang mirip seperti yang terdapat pada cula badak. Selain itu sudah sejak lama dianggap sebagai material yang mudah dipahat. 

Enam tahun terakhir ini , permintaan akan cula rangkong terus melonjak, dan banyak ahli konservasi beranggapan bahwa tren meningkatnya minat ini sejajar dengan meningkatnya minat akan gading gajah. 


"Rangkong adalah burung yang cukup besar, jantannya bisa mencapai berat di atas 3kg sehingga mereka relatif mudah ditembak," kata Sophie Adwick dari Masyarakat Zoologi London.

"Seringkali suara mereka terdengar lebih dahulu daripada terlihat hewannya karena suara mereka seperti terkekeh."

Di tahun 2013, ada lebih dri 500 ekor burung dibunuh setiap bulannya di Kalimantan Barat hanya untuk diambil culanya. Perburuan tersebut memiliki keterkaitan dengan tingginya permintaan di Cina. 

"Cula ini bisa lebih mudah dipahat dari gading gajah, karena lebih lembut, sehingga bisa digunakan untuk mengembangkan ornamen yang lebih rumit dan kemudian dijual sebagai simbol status," kata Adwick.

Menghilangnya burung jantan juga memberi pengaruh besar pada burung betina, terutama karena perilaku mereka yang tidak biasa ketika berkembang-biak. 

Burung betina membuat sarang di dalam pohon yang dilubangi lalu burung jantan akan menutup lubang sarangnya dengan lumpur. Burung betina akan berada di dalamnya selama 160 hari sedangkan burung jantan akan membawakan makanan dan mengantarkannya melalui celah yang berada di antara tutupan lumpur tersebut. 

Oleh karena burung jantan banyak diburu untuk diambil culanya, burung betina dan anak-anaknya terancam mati karena tidak ada yang memberinya makanan. 

Spesies ini sudah terdaftar di Appendix I sehingga tidak boleh lagi diperdagangkan. Dan untuk upaya mendorong penerapan perlindungan yang lebih kuat terhadap spesies ini, Indonesia mengajukan resolusi. 

Setelah melalui beberapa amandeman, pertemuan para pihak di Johannesburg menyepakati serangkaian keputusan yang akan membantu meningkatkan perlindungan hukum terhadap burung ini, meningkatnya kerjasama antara badan hukum dan mendorong program pendidikan publik. 

Pertemuan Cites tersebut memutuskan untuk mengerahkan upaya tambahan untuk mengurangi perdagangan ilegal.

Selamatkan rangkong dari pemburu liar 
Burung enggang lambang kesetiaan 


Katalog Produk Omkicau

Artikel Terkait