Raja-udang kalung-biru yang terancam punah

8/23/2017
Raja-udang kalung-biru merupakan salah satu jenis burung raja-udang paling langka dan dilindungi di Indonesia. Spesies burung yang memiliki nama lain Blue-banded kingfisher atau Javan blue-banded kingfisher ini bahkan pernah hampir dianggap punah sampai muncul laporan perjumpaan di tahun 2009 di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun

Raja-udang kalung-biru yang terancam punah



Raja-udang kalung-biru adalah jenis burung pemakan ikan dan udang dari keluarga Alcedinidae. Berukuran sedang dengan panjang tubuh 18cm, tubuh berwarna biru tua dan putih. Mahkota, sisi kepala dan sayap berwarna hitam kebiruan gelap. Garis dada, punggung dan ekor biru muda. Sedangkan kekang, tutup telinga, tenggorokan dan perut berwrna putih tersapu merah karat. Burung betina dapat dibedakan dari bagian perutnya yang berwarna jingga - merah karat, tenggorokan krem. 

Nama latin untuk menyebutkan burung yang pandai berburu ikan ini adalah Alcedo euryzona dan terdiri dari dua sub-spesies yaitu Alcedo euryzona euryzona yang memiliki penyebaran di Pulau Jawa, dan Alcedo euryzona peninsulae yang memiliki penyebaran mulai dari selatan Myanmar dan Thailand barat hingga ke Sumatera dan Kalimantan. 



Raja-udang kalung-biru dikenal sebagai burung pemalu yang mendiami daerah sekitar sungai berbatu di hutan hujan tropis dan hutan mangrove hingga ketinggian 1250 meter dpl. Meski makanan utamanya adalah ikan namun jenis burung ini juga kerap memangsa serangga, reptil kecil, kepiting dan udang yang terdapat di sekitar sungai. 

Di Pulau Jawa, populasi burung raja-udang kalung-biru diperkirakan berada pada kisaran 50-249 individu burung dewasa. BirdLife mengungkapkan bahwa sejak ditemukan pertama kalinya pada tahun 1930, spesies ini jarang dijumpai kembali sampai muncul laporan perjumpaan pada tahun 2009 di Taman Nasional Gunung Halimun. 

Seperti burung raja-udang pada umumnya, raja-udang kalung-biru akan bersarang di dekat kaki bukit di dalam hutan yang lebat. Lubang sarang biasanya berada di area tebing yang berada dekat aliran sungai kecil. Musim kawin umumnya berlangsung pada bulan Februari s/d Juni dan akan berbiak dengan jumlah telur sebanyak 4-5 butir. 


Berdasarkan populasinya yang terus mengalami penurunan dan semakin langkanya burung ini dijumpai di daerah penyebarannya, Badan Konservasi Dunia atau IUCN memasukkan spesies ini dalam Daftar Merah mereka dan menetapkan statusnya sebagai Vulnerable (VU) atau Rentan Punah. 

Untuk menjaga kelestarian burung ini di alam dan mencegah perburuan serta penangkapan liar. Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan semua spesies burung raja-udang termasuk raja-udang kalung-biru ke dalam daftar jenis burung yang dilindungi.



Iklan Premium Omkicau

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Komentar spam akan langsung kami hapus