12/28/2017

Kakatua Maluku, si merah jambu yang terancam populasinya

Indonesia mempunyai setidaknya tujuh jenis kakatua yang masing-masing memiliki karakter serta keunikannya tersendiri. Sayangnya, semua jenis kakatua banyak diburu untuk diperjualbelikan, tak terkecuali kakatua maluku. 

Kakatua Maluku



Kakatua maluku (Cacatua moluccensis) adalah jenis burung kakatua yang berukuran besar. Panjangnya mencapai 46-52 cm, tubuh didominasi bulu berwarna putih merah jambu. Jambul merah jingga, panjang dan melengkung ke belakang. 

Tubuh bagian bawah dan ekor berwarna jingga kekuningan. Paruh hitam abu-abu dengan lingkaran mata putih kebiruan. Burung betina serupa, tapi biasanya mempunyai bentuk tubuh yang lebih besar dari burung jantan. 

Sesuai namanya, kakatua maluku yang bernama internasional Salmon-crested cockatoo adalah burung endemik Pulau Seram, Ambon, Saparua, dan Haruku di Maluku. Akan tetapi, sebagian besar populasinya kini hanya tersisa di Pulau Seram, adapun di Ambon hanya tersisa di satu lokasi, sedangkan di Saparua dan Haruku sudah tidak bisa dijumpai lagi keberadaannya. 

Menurunnya populasi burung kakatua maluku tidak terlepas dari tingginya permintaan akan jenis kakatua ini. Apalagi selama ini kakatua dikenal sebagai jenis burung yang cerdas, mudah jinak, dan pandai menirukan berbagai suara. Selama bertahun-tahun, kakatua maluku kerap diburu untuk diperdagangkan walaupun jenis ini sudah termasuk dalam daftar burung yang dilindungi undang-undang sesuai PP No.7 Tahun 1999. 

Sejak tahun 1990an, populasi kakatua maluku terus mengalami penurunan. Bahkan penelitian yang pernah dilakukan Margaret Kinnaird pada 1998 mengungkapkan bahwa populasi kakatua maluku pada saat itu hanya sekitar tujuh ekor / km2. Sedangkan dalam survey yang dilakukan Yan Persulessy pada 2006-2007 memperkirakan kepadatan populasinya hanya tersisa kurang dari satu ekor /km2 dengan luas habitat yang tersisa hanya sekitar 11.500 km2. 

Burung paruh bengkok pemakan buah-buahan, kacang-kacangan, biji dan serangga ini menghuni hutan hujan di dataran rendah hingga ketinggian 1.000 meter dpl. Sebagian besar mereka menghuni hutan primer dan sekunder di bawah 180 meter, meski sebagian kecil juga ditemukan di kawasan bekas tebangan hutan. 

Semakin meningkatkan perburuan akan kakatua maluku membuat Badan Konservasi Dunia atau IUCN menempatkan spesies ini dalam status Rentan dengan status perdagangan CITES Appendix I dan II sejak tahun 1989.