1/31/2018

Duh, kakatua jambul kuning tinggal tersisa 40 ekor di alam

Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam / BKSDA Nusa Tenggara Timur mengungkapkan bahwa populasi kakatua jambul kuning yang terdapat di provinsi berbasis kepulauan itu kini tersisa 40 ekor saja. Perburuan liar menjadi penyebab burung jenis paruh bengkok yang dilindungi itu kian menyusut jumlahnya. 

kakatua jambul kuning


"Untuk di NTT kakaktua jambul kuning adalah hewan liar yang dilindungi oleh Undang-Undang. Burung jenis ini jumlahnya sampai saat ini tinggal 40 ekor," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Nusa Tenggara Timur (NTT) Tamen Sitorus kepada wartawan di Kupang, Selasa (30/1).

Ia menjelaskan hal ini berkaitan dengan semakin punahya kakatua jambul kuning yang sebenarnya dilindungi oleh UU dan PP No.7/1999. Berkurangnya populasi jenis parrot tersebut akibat banyak diburu oleh masyarakat. 

Jumlah tersebut meliputi dua site monitoring BBSDA NTT, yaitu di Taman Wisata Alam Manipo di Kabupaten Kupang dan Suaka Margasatwa Harlu di Kabupaten Rote Ndao. 

Untuk menjaga kelestarian kakatua jambul, BKSDA terus bekerja sama dengan sejumlah pihak agar bisa memantau kawasan yang menjadi lokasi berkembangbiaknya spesies burung yang dikenal cerdas itu. 

Terlebih lagi di tahun 2014, pemerintah sudah mengeluarkan UU perlindungan terhadap satwa-satwa liar yang menjadi prioritas perlindungan, salah satunya adalah kakatua jambul kuning. 

Oleh karena itu, setiap tahun pihaknya menargetkan peningkatan populasi burung jenis ini sebanyak 10 persen, artinya jika tahun 2017 hanya terdapat 40 ekor, maka di tahun 2018 ini diharapkan populasinya bisa mengalami peningkatan sebanyak dua ekor. 

Untuk itu, mereka mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak memburu satwa-satwa yang dilindungi, karena jika tertangkap sudah pasti akan diberikan sangsi tegas. 


close